October 21st, 2006 by diditkuswanto

L_1
KATA YANG TERLAMBAT

Aku menyukai seseorang!Entah apa yang aku rasakan saat ini, banyak sekali hingga aku bingung bagaimana cara mengatakannya. Gelisah, bahagia, sedih, resah dan….entahlah. Yang aku tahu aku tidak menjadi diriku yang sebenarnya, aku bukanlah aku yang seperti biasa. Terkadang aku mudah marah, terkadang aku tersenyum-senyum sendiri, kaya’ orang gila aja! Bahkan aku sering termenung seorang diri dan mulai memikirkan banyak hal. Aku menjadi seseorang yang berbeda dalam melihat sesuatu dan dalam berpikir. Terkadang terlihat lebih dewasa dan berwibawa dalam memutuskan atau menangani suatu masalah, tapi terkadang juga egois seperti anak kecil, mau menang sendiri.
”Itu artinya kamu lagi jatuh cinta sama seseorang.” Begitu kata temanku suatu hari ketika aku menanyakan perubahan yang aku alami. Benarkah itu?? Jawabanku hanyalah diam…karena aku memang tidak tahu. Apa yang harus aku jawab jika selama ini aku belum pernah sekalipun merasakan perubahan ini? Yah…begitulah. Aku belum pernah jatuh cinta. Aku belum pernah merasakan apa yang dikatakan orang sebagai pemanis kehidupan. Aku memang senang mencintai dan aku juga mencintai banyak orang, tapi aku tak pernah…merasa begitu aneh.
”Apa yang aku harus lakukan kalau begitu?” Tanyaku lagi pada teman seperjuanganku itu. ”Katakan saja padanya”. Begitu jawabnya. Aku berpikir kembali. Tidak mudah mengatakan hal itu, tidak mudah mengatakan 3 kalimat sakral itu. Ini menyangkut perasaan, bagaimana jika dia menolakku? Bagaimana jika dia kemudian akan membenciku? Apa yang harus aku lakukan setelah itu? Bagaimana dengan hatiku ketika dia menolakku nanti? Lalu…bagaimana dengan harga diriku sebagai perempuan? Akan kutaruh dimana mukaku? Lagipula tidak pernah sekalipun terlintas dalam benakku bahwa akulah yang akan mengatakan kata ’suka’ pada seorang laki-laki. Tapi aku menyukainya, aku mencintainya dan aku benar-benar ingin dia tahu tentang perasaanku ini. Lalu…bagaimana?
Kutanyakan lagi permasalahanku itu, dan dia menjawab ”Jaman sekarang tidak ada masalah lagi dengan perbuatan mendahului seperti itu. Dunia sudah lebih maju, wanita juga harus maju dan kalau kau memang menginginkannya dalam hidupmu, ingin dia membalas kasih dan perhatianmu, maka katakan padanya. Katakan kamu suka padanya dan ingin dia jadi kekasihmu”.
”Lalu bagaimana jika dia menolak?” Tanyaku lagi ketika hatiku masih diujung kebimbangan.
”Kau tidak akan merasa rugi!Perasaan mencintai adalah perasaan yang terindah. Kau harus bersyukur bahwa kau pernah merasakan cinta meski cintamu tak terbalas, karena dengan begitu kau baru bisa merasakan indahnya kehidupan”. Pembicaraan kami berakhir, dan kamipun pulang ke tempat masing-masing.
__________000__________

Dalam kamar kecil yang pengap, aku masih memikirkan pembicaraan cinta itu. Bahkan hingga 1000kali aku berpikir, tak satupun aku temukan jalan keluarnya. Cinta, hanya terdiri dari lima huruf tetapi mempunyai makna yang sangat kompleks, rumit dan membingungkan. Bukan! Bukan kata itu yang menjadi masalah…tetapi aku!Aku mencintai seseorang tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk berjuang. Aku mencintai seseorang, tapi bahkan untuk mengatakannya kepada seseorang itupun aku tidak mampu. Aku mencintai seseorang, jika memang begitu…apa yang aku lakukan di dalam kamar sempit ini? Mengapa aku tidak keluar dan mendobrak pintu rumahnya? Kenapa aku tidak secara langsung mengatakan dengan lantang dihadapan banyak orang bahwa aku mencintainya? Kenapa tidak aku lakukan sekarang? Mungkin hanya saat inilah satu-satunya kesempatanku untuk bertemu dan mengatakan perasaanku padanya. Bukankah tidak ada yang tahu kekekalan umur? Tak ada yang tahu bahwa esok mungkin aku malah tidak akan bertemu dengannya? Iya…harus aku lakukan! Aku harus pergi sekarang juga! Aku harus mengatakan bahwa aku mencintainya dan menginginkan dia dalam hidupku!
Tetapi malam itu, yang kulakukan hanyalah duduk tepekur memandangi bulan dan bintang yang semakin lama semakin hilang tertutup awan. Akupun masuk dalam selimut dan bermimpi tentangnya…
__________000__________

”Sudah kau katakan padanya?” Tanya temanku suatu ketika. Aku hanya bisa menggeleng lesu. ”Apa yang kau tunggu?” Tanya temanku lagi. Aku menggeleng lagi. Aku memang tidak tahu apa yang kutunggu. Hati kecilku mengatakan bahwa aku ingin sekali mendekatinya tetapi seketika itu juga otakku berteriak dengan lebih keras ”TIDAK, Jangan lakukan itu!Akan kau taruh mana mukamu itu. Lihatlah dirimu. Kau tidak cantik, apa yang akan kau banggakan dihadapannya!!Lebih baik jangan katakan”. Begitulah, hingga akhirnya aku mengurungkan niatku kembali.
”Jangan hanya menunggu dan menunggu. Keajaiban tidak akan datang jika kau tidak berusaha”. Kemudian temanku itu meninggalkanku sendiri dengan kebimbangan yang semakin dalam.
Aku memang tidak cantik, tidak ada juga badan seksi yang dapat aku banggakan. Kata orang, badanku berisi dan montok tapi aku merasa akulah orang yang paling gemuk di sekolah. Tak ada prestasi yang dapat aku banggakan juga, aku hanya sibuk dengan kegiatanku di keorganisasian tanpa satupun hasil memuaskan yang aku terima. Lalu apa yang bisa aku tawarkan kepadanya selain cinta? TIDAK ADA!!Lalu kenapa kau ingin dia tahu bahwa kau mencintainya? Itu hanya akan mempermalukan dirimu saja.
Tetapi manusia tidak hanya dilihat dari segi fisik saja bukan? Manusia melihat kebaikan hati manusia lain, dengan begitu dunia ini menjadi lebih damai dan menyenangkan. Fisik tidak selamanya kekal, yang kekal adalah apa yang ada dalam hatimu. Yang kekal adalah apa yang selalu kau lakukan sesuai dengan keinginan hati. Jika kau memikirkan apa yang kau miliki yang bisa kau berikan kepadanya, bukankah kau sudah menjawabnya sendiri? Kau punya cinta. Cinta membuat apa yang selama ini kau rasakan. Kau resah..tetapi kau sangat bergairah hidup ketika memiliki rasa cinta. Itulah kekuatannya.
Iya..Benar. Apa yang kutunggu untuk mengatakannya? Aku memiliki cinta yang sangat tulus yang pantas kuberikan kepadanya. Apa lagi yang harus aku ragukan? Aku harus segera bertindak bukan?!
Kemudian, lagi-lagi aku tidak beranjak dari dudukku ketika melihat dia berjalan didepanku tanpa melihatku sedikitpun. Aku tidak berani mengatakannya!
__________000__________

Sudah seminggu ini aku berkutat dengan tugas-tugas sekolah dan organisasiku. Sudah seminggu ini aku berusaha untuk melupakannya. Atau juga untuk memastikan? Memastikan apakah aku benar-benar mencintainya? Ataukah hanya cinta monyet seperti yang biasa dialami anak-anak lain disaat seusia denganku?. Tapi terus terang, hal ini menyiksaku. Hal ini membuatku bertambah murung dan sering marah. Tidak melihatnya sehari membuat garis kerutan diwajahku muncul. Tidak melihatnya dua hari membuatku melupakan tugas-tugas yang harus aku selesaikan. Tiga hari tidak melihatnya, membuatku tidak nafsu makan. Hari keempat membuat wajahku bertambah jelek, dan juga banyak yang memarahiku karena tugas-tugas tidak dikerjakan dengan baik. Hari kelima hingga hari ketujuh membuatku terbaring di kamar dengan badan yang panas dan hidung merah. Ya, aku sakit. Sakit gara-gara cinta, sakit gara-gara putus asa, sakit gara-gara dia. Bukankah seharusnya aku membenci dia? Tetapi bukan itu yang malah terjadi.
Ternyata aku memang mencintainya, bukan hanya cinta monyet yang selama ini aku pikir dan aku harapkan.
Ini semua juga salahku. Andaikan aku mengatakan perasaanku padanya, aku tidak akan mengalami hal seperti ini. Andaikan aku menyingkirkan sedikit ego kewanitaanku, mungkin situasi akan berubah. Andaikan aku mempunyai keberanian, aku tidak akan merasa sesedih ini.
Sekali lagi kutanyakan dalam hatiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kumpulkan keberanian, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan kembali secara perlahan, dengarkan hati nuranimu. Kulakukan hal itu selama beberapa menit…10 menit…20 menit…50 menit…satu jam kemudian, aku baru mendapatkan jawabannya. Katakan padanya bahwa kau mencintainya!!
Aku terbangun dengan semangat berapi-api. Kutanggalkan selimut yang selama beberapa minggu ini menjadi saksi bisu keputusasaanku. Lemari pakaian terlihat sangat jauh, tapi hanya dalam beberapa detik aku berhasil mencapainya dan merenggut sebuah baju berwarna pink cerah, hmm senada dengan hatiku saat ini. Kutorehkan sedikt bedak, pemerah pipi dan lipstick untuk menyamarkan noda pucat diwajahku. Selesai, aku siap. Aku akan mengatakannya hari ini.
Rasanya ada sejuta bintang dikepalaku ketika aku berjalan menuruni tangga rumah, entah karena rasa pusing akibat demamku yang tidak kunjung turun atau karena kebahagiaan yang meledak-ledak dalam dada. Aku tidak memedulikannya lagi, yang harus aku lakukan adalah secepat mungkin pergi dan bertemu dengannya dan mengatakan kata itu. Tidak ada lagi keraguan dalam hatiku, tidak ada lagi tanda tanya besar yang membuat aku berpikir kembali. Aku harus mengatakannya! Hal itulah yang berulang-ulang muncul baik dalam benak maupun dalam otak. Tidak ada lagi logika yang membutku pusing, bukankah cinta memang jauh dari logika? Jika kita mencintai seseorang, maka kita akan berusaha sekeras tenaga untuk menjadikannya sesuatu yang nyata.
Dengan tekad 1000 baja, aku menerobos pintu setelah mengucapkan selamat tinggal pada ibuku. Setengah berlari aku menerobos kepadatan kota, aku menerobos mobil-mobil dan sepeda motor yang lalu lalang dengan cepatnya. Tidak ada yang kupikirkan selain dia. Tidak kupedulikan kondisi tubuhku yang lemah akibat rasa sakit itu, toh aku yang menyebabkan rasa sakit ini menyerangku?. Aku terus berlari, kegembiraan membuncah dalam benakku yang paling dalam. Tidak sabar lagi rasanya, aku benar-benar ingin segera bertemu dengannya.
Memang inilah yang dinamakan cinta. Kita seperti dapat terbang diatas awan. Meski terkadang juga kita harus merasakan penderitaan yang amat sangat seperti yang kurasakan saat ini. Kepedihan yang teramat sangat ketika kita tidak dapat mengatakan bahwa kita sangat mencintainya, atau kepedihan yang amat dalam ketika seseorang yang kita cintai tidak membalas rasa cinta kita. Tetapi apa itu yang perlu kita khawatirkan? Tidak, kita hanya harus berpikir bahwa aku mencintainya dan aku ingin dia tahu betapa tulusnya hatiku.
Cinta mempunyai kekuatan yang aneh, kuat, membingungkan dan entah apalagi yang dapat aku katakan. Hanya cinta, yah hanya dengan cintalah kita dapat mereguk kenikmatan hidup, hanya dengan mempunyai perasaan cintalah kita dapat membahagiakan orang lain, karena dengan cinta…wajah kita menjadi sumringah, cerah dan sangat bahagia. Seperti yang saat ini aku alami.
Sedikit lagi, tinggal beberapa meter lagi aku sampai. Tunggulah aku, aku akan segera mengatakannya padamu. Entah bagaimana akhirnya nanti, kau akan menerimaku atau tidak, tetapi aku akan merasa sangat puas melepaskan lilitan cinta yang selama ini membelengguku…
____________________________
Telah meninggal dunia pada hari senin, 12 mei 1999, seorang gadis berusia 17 tahun. Diduga gadis yang mengenakan blus berwarna merah jambu ini tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Gadis tersebut terlihat sedang terburu-buru menyeberangi jalan saat lalu lintas tengah padat, sehingga mobil yang datang dari arah yang berlawanan tidak dapat menghentikan kendaraannya secara mendadak. Gadis tersebut terpelanting sejauh 100 meter. Korban sempat dibawa kerumah sakit, tetapi nyawanya tidak bisa tertolong. Dalam ambulans, korban sempat mengatakan ”Aku belum mengatakan Cinta…..”.

Yang perlu kita khawatirkan saat memiliki rasa cinta adalah ketika kita tidak dapat menyampaikan perasaan kita yang tulus pada orang yang disayangi. Tetapi penyesalan selalu saja datang di saat-saat terakhir…

August 5th, 2006 by diditkuswanto

….

Trimakasih kamu sudak datang keMalang dan menghubungiku. Kamu bisa saja datang dan pergi tanpa kabar, kamu bisa saja tidak menghubungiku saat dimalang. Tapi kamu masih tetap menganggapku teman.

Kita jalan lagi seperti yang dulu, yang pernah kita lakukan dan diriku masih tetap mengingat saat saat itu. Aku takut menyukaimu lagi, benar aku merasa takut…

Saat di jalan pernah kukatakan bahwa "jika ada sepasang kekasih yang sudah berpisah atau pun apa saja, hubungan itu tidaklah sehat jika diantara keduanya masih tersimpan rasa cinta. Maka haruslah ada diantara salah satunya yang mengorbankan cintanya jika masih menginginkan pertemanan" untuk menghindari itu kucoba untuk membunuh perasaan itu demi persahabatan kita…

hari ini bukan hari esok

July 30th, 2006 by diditkuswanto

Saat mata mulai merasa lelah, jangankan berpikir…merenung pun sulit.

Aku yakin, saat ini pasti ada sesuatu yang dapat membuatku terlelap..

Tapi aku benar benar tak dapat berpikir

Aku ingin terlelep malam ini… Hanya malam ini saja

Biarlah esok apakah diriku tetap tak tapat menemuimu di alam mimpi…

aku ingin terlelap hanya malam ini…

semoga ini hanya mimpi belaka..

Normal kah?

July 30th, 2006 by diditkuswanto

Pernah kudengar..,

bahwa cinta begitu indah…

bahwa cinta begitu menyenangkan…

namun kenapa justru diriku yang belum mengalaminya…

cinta untuk para pencinta, Cinta datang ketika cinta itu yang menghendaki.

kita tidak lah dapat memilih,kapan?dimana?dan sampai kapan kita akan menemuinya…

Biarlah cinta itu yang akan menemukan cinta